Hari yang paling mendebarkan sepanjang masa perkuliahanku disemester ini adalah hari selasa. Mengapa? karena hari itu aku harus kuliah medan elektromagnetik. Sebenarnya kuliahnya nggak beda jauh ama kuliah fisika lainnya. hanya saja yang membuat spesial adalah dosen pengajarnya. Dosen pengajar mata kuliah ini selalu membimbing dan menuntut mahasiswanya untuk mempunyai wawasan yang luas baik itu wawasan tentang mata kuliah, tentang fisika, tentang hidup dan semua harus serba luas, akurat dan logis.
Memang sangat masuk akal sebagai seorang pengajar beliau harus berhasil mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada para anak didiknya. Sebab merekalah yang nantinya meneruskan bangsa ini. Kalau penerusnya nggak paham dengan dunianya, dunia fisika maka pastilah Naga Bonar berkata ” APA KATA DUNIA??? “.
Dari semua metode pembelajaran aku menilai itu sangat bagus untuk merangsang dan memaksa mahasiswa untuk belajar dengan keras. hal ini diwujudkan dengan selalu ada Tugas dan Tes disetiap pertemuan.. Tentunya secara ideal semakain banyak tugas dan tes berarti semakin sering pula mahasiswa itu belajar yang diharapkan berimbas pada peningkatan penguasaan mahasiswa terhadap ilmu yan dipelajarinya.
Namun apa yang terjadi jika tugas itu satu kelas sama jawabannya? dan apa yang terjadi jika tes-tes itu mengecewakan hasilnya? aku bisa mengatkan bahwa Sang dosen pastilah jengkel, marah, kecewa, bingung dan seabreg perasaan lainnya.. Sehingga yang bisa dilakukannya adalah terus memancing mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat fundamental dalam setiap penjelasaanya. Akan tetapi pertanyaan fundamental itu bagaikan bertepuk sebelah tangan, tanpa jawaban yang tepat.
Selain dengan tes dan tugas, Sang Dosen sering memberikan berbagai komentar yang menurut sebagian besar mahasiswa komentar seperti itu sangat menyakitkan..pelan sih..tapi dalam…
nah dalam komentar2nya itu banyak mahasiswa yang merasa dirugikan dan jengkel . Akan tetapi semua rasa itu harus diterima karena sudah merupakan konsekuenasi logis akan kelemahan setiap mahasiswa. Dan sebagai pengajar yang ingin mahasiswanya berhasil, Sang Dosen sering berpesan “Penderitaan Itu Harus Dilalui”. maksudnya adalah penderitaan selama mempelajari matakuliah tersebut.
Akhirnya karena sering mengalami masalah seperti itu , maka para mahasiswa sepakat untuk memberinya julukan “kuliah yang penuh dengan kekerasan epistimologis”.Mengapa? karena semua advise yang dilontarkan pak dosen diucapkan dengan pelan, tenan, innocense dan benar2 menusuk. Istilah teman2 pelan siih…tapi dalam… benar2 langsung mengena.
namun demikian nggak ada pilihan lain selain harus menikmati dan berusaha mewujudkan semua advise dari Bapak dosen.
Yup karena kita adalah physicsist